Prediksi Potensi Air Tanah Untuk Optimasi Sawah Tadah Hujan Dalam Menunjang Ketahanan Pangan

Muhammad Yasar

Abstract


Terbatasnya sumber daya lahan yang didukung infrastruktur yang sesuai dan memadai telah menyebabkan usaha pertanian tanaman pangan khususnya padi mengalami tantangan dan kendala yang serius. Di Pulau Simeulue, dari luas lahan sawah yang tersedia, sebanyak   43.11 % merupakan lahan sawah tadah hujan. Selama ini untuk mengairi sejumlah lahan tersebut, potensi curah hujan yang dimiliki dianggap mampu memenuhi kebutuhan air tanaman padi. Namun, munculnya gejala perubahan iklim global telah menyebabkan usaha budidaya yang hanya mengandalkan air hujan saja tidak dapat diharapkan sepenuhnya sementara untuk pemanfaatan air permukaan sebagai sumber air irigasi tidak dimungkinkan akibat kendala geologis. Artikel ini bertujuan untuk menemukan solusi terkait permasalahan ketidakcukupan/ketidaktersediaan air irigasi melalui pemanfaatan sumberdaya alam potensial berupa air tanah di Pulau Simeulue. Penyajian dilakukan secara deskriptif menggunakan data primer melalui pengukuran lapangan dan telaah kepustakaan untuk menggali potensi pemanfaatan air tanah sebagai sumber air irigasi. Proses pengambilan data pada penelitian ini menggunakan metode Geolistrik Resistivitas konfigurasi Wenner-Schlumberger yang dilakukan memakai Resistivitimeter ARES. Pengambilan data dilakukan pada 1 lintasan yang berarah Barat–Timur dengan panjang lintasan 460 m dan spasi 20 m. Koordinat lintasan pengukuran: titik awal lintasan  S0 (0 m) yaitu N 02ᵒ25’14.2” / E 96ᵒ18’12.2”  dan titik akhir S46 (460 m) yaitu N 02ᵒ25’43.9” / E 96ᵒ18’27.1” Berdasarkan gambaran penampang resistivitas pada lintasan STB menunjukkan bahwa lintasan STB secara umum diperoleh nilai resistivitas yang rendah yaitu 2 – 100 Ωm yang merupakan aluvium. Nilai resistivitas yang lebih rendah (konduktif) umumnya merupakan lapisan yang mengandung air tanah. Pada gambar penampang lintasan STB, lapisan yang sangat konduktif yaitu nilai resistivitas < 16 Ωm dapat dilihat pada kisaran jarak bentangan 240 – 360 m dengan kisaran kedalaman ± 45 – 94 m.


Keywords


Air tanah, ketahanan pangan, geolistrik, sawah tadah hujan

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


E-ISSN: 2302-3015

Lisensi Creative Commons

JLSO: LAHAN SUBOPTIMAL © 2012-2018 Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR-PLSO) Universitas Sriwijaya,Gedung Graha Pertanian, Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya,Jl.Padang Selasa No.524,Bukit Besar,Palembang 30139,Telpon/Faksimil: +62711352879 is licensed under a License Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International